Pendidikan dan Kepemimpinan di Jawa
Barat
Sob, pendidikan tinggi itu akan
menghasilkan jatidiri dan kepribadian sebagai seorang pemimpin.. nah di Jawa
Barat terdapat banyak Perguruan Tinggi dan sifat kepemimpinan pada dasarnya
yang dihasilkan juga bermacam..
Perguruan
Tinggi Negeri
Universitas Indonesia (UI), Kota
Depok.
Institut Teknologi Bandung (ITB),
Bandung.
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung
Djati (UIN Bandung), Bandung
Universitas Padjadjaran (Unpad),
dengan lokasi kampus di,Bandung dan Sumedang.
Universitas Pendidikan Indonesia
(UPI), d/h IKIP Bandung, Bandung.
Institut Pertanian Bogor (IPB),
Bogor.
Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial
(STKS Bandung), Bandung.
Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung
(STSI Bandung), d/h ASTI Bandung, Bandung.
Politeknik Negeri Bandung (POLBAN),
d/h Politeknik ITB Bandung,Bandung.
Politeknik Manufaktur Bandung
(POLMAN), d/h Politeknik Mekanik Swis-ITB Bandung, Bandung.
Universitas Swadaya Gunung Jati,
Cirebon
Institut Agama Islam Negeri (IAIN)
Syekh Nurjati, Cirebon
Institut Pemerintahan Dalam Negeri
(IPDN), Sumedang
Sistem
Kepemimpinan
Sistem
kepemimpinan dalam masyarakat Sunda dapat diklasifikasikan atas dua macam,
yaitu
(a)
kepemimpinan kenegaraan dan
(b)
kepemimpinan keagamaan
Kepemimpinan
kenegaraan ialah kepemimpinan yang terbentuk berdasarkan tugas, kewajiban dan
wewenang mengelola negara atau kelompok masyarakat tertentu. Dalam masyarakat
Sunda kepemimpinan kenegaraan paling atas pernah dipegang oleh raja pada masa
pengaruh kebudayaan Hindu (abad ke-5 sampai dengan abad ke-16), sultan pada
masa pengaruh Islam (abad ke-15 sampai awal abad ke-19) dan bupati (sejak abad
ke-17 di Priangan dan abad ke-19 di Banten dan Cirebon), sedangkan paling bawah
dipegang oleh kepala desa yang juga disebut lurah di priangan, kuwu di Cirebon
dan jaro di Banten. Mereka adalah pemimpin di tempatnya masing-masing yang
mengatur kehidupan bernegara,bermasyarakat,dan kehidupan duniawiah lainnya.
Dalam
kehidupan sehari-hari mereka menonjol sebagai pemimpin dan mempunyai kekuasaan
besar.
Dalam
melaksanakan tugasnya mereka mempunyai tempat kegiatan sendiri seperti (keraton
bagi raja dan sultan, pendopo bagi bupati, bale desa bagi kepala desa), juga
pakaian dinas, perlengkapan dinas dan symbol serta sejumlah pembantu.
Kepemimpinan
keagamaan ialah kepemimpinan yang terbentuk berdasarkan penguasaan ilmu agama
dan berperilaku sesuai dengan norma dan nilai keagamaan. Dalam masyarakat Sunda
kepemimpinan keagamaan dipegang oleh tokoh-tokoh agama seperti
ulama/kiai/ajengan bagi pemimpin agama Islam atau pendeta bagi tokoh agama
Kristen. mereka umumnya mempunyai pengikut atau murid dan memimpin suatu
lembaga pendidikan agama, seperti pondok pesantren pada agama islam.
Pemimpin
agama sering diminta nasehat, pendapat, memimpin do’a dalam upacara–upacara
yang bersifat kenegaraan dan kemasyarakatan oleh pemimpin negara dan masyarakat
pada umumnya.
Seorang
pemimpin agama dapat mengembangkan kepemimpinannya menjadi pemimpin negara /
masyarakat dapat mengembangkan pribadinya menjadi pemimpin agama juga.
Sebagai
contoh Sunan Gunung Jati menjadi pemimpin agama juga kepala negara yang
berkedudukan di Cirebon dan sangat berpengaruh di wilayah Jawa Barat pada abad
ke 15/16 Masehi (bahkan pengaruhnya hingga sekarang). Itu semua berkat penguasaan
yang luas dalam menekuni ilmu agama Islam, mempelopori penyebaran agama dan
menegakkan kekuasaan Islam di wilayah Jawa Barat. Sedangkan sultan-sultan
Cirebon dan Banten selanjutnya menjadi pemimpin cenderung karena keturunan
sunan Gunung Jati
Model
kepemimpinan masa kerajaan Islam tercermin dalam kehidupan di keraton – keraton
Cirebon (Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan). Walaupun sudah tidak memiliki
kekuasaan lagi, namun bagi kalangan masyarakat tertentu sultan – sultan Cirebon
tetap dianggap sebagai pemimpin mereka secara tradisional.
Diantara
para pemimpin agama ada juga yang menjadi pembantu tetap pemimpin negara mulai
tingkat paling atas hingga tingkat paling bawah. Sebaliknya, pemimpin negara
/masyarakat selalu berusaha untuk membantu dan melindungi pemimpin agama. Semua
itu dimaksudkan agar tugas dan fungsi masing-masing berjalan lancar dan terus
berlanjut.
Kepemimpinan
dalam masyarakat Sunda bisa diperoleh melalui upaya kepeloporan dan keunggulan
individual (seperti para pendiri dan para pencipta), keturunan (raja, bupati,
pemimpin pesantren dan pemimpin kelompok masyarakat tertentu) dan pemilihan
(Gubernur, bupati, Kepala desa, Ketua Organisasi dan lain-lain).
Disamping
itu calon pemimpin itu sendiri memiki pengetahuan, pengalaman, karakter,
kemampuan lahir bathin dan kekayaan. Kelebihan individual tersebut sering
ditambah dengan memiliki alat perlengkapan tertentu yang dipercayai mengandung
kekuatan gaib/magis, seperti kujang, keris, batu, piagam/besluit, naskah/kitab,
mahkota, gamelan dan lain-lain.
Ada beberapa
kriteria untuk memandang seseorang menjadi pemimpin ideal menurut orang Sunda
di antaranya yaitu ada kemauan dari dirinya sendiri, sehat jasmani dan rohani,
memelihara kesempurnaan beragama dan ajaran leluhur, tebal iman, rajim tekun,
tawakal, tangkas, pintar, ,memiliki kepandaian, teliti, bersemangat, bijaksana,
berani, tulus hati, tidak sombong, suka mengalah, untuk kebaikan, murah senyum,
berseri hati, sayang pada yang lebih rendah, adil, sederhana, halus budi
bahasanya mantap bicara dan menjunjung tinggi keutamaan.